Aku jatuh cinta padanya karena dia selalu masuk lima menit tepat sebelum jam masuk kantor. Tidak lebih dan tidak kurang satu detik pun. Pas sekali menjadi istriku. Dia akan mampu memenuhi standar kehidupan yang aku inginkan. Presisi, praktis, dan idealis.
Dia mengingatkanku pada masa muda. Idealis dan penuh semangat. Seperti versi mudaku. Karena itu aku mencintainya, dia mirip aku dulu.
Sekarang, di usiaku di pertengahan tiga puluh dengan semua drama di tempat kerja, diriku bukan diriku lagi. Aku menyerah pada kenyataan. Tak ada tujuan-tujuan mulia, tak ada target-target menggairahkan. Yang penting masuk, kerja, pulang, dan terima gaji. Bukankah semua orang akan menjadi seperti itu?
Aku senang pada saat dia masuk satu bulan lalu. Baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Anaknya cantik, ramah, rapi, lembut, dan rajin. Yang mengagumkan tak pernah kudengar keluhan dari mulutnya yang selalu tersenyum itu.
Sayangnya dia bukan stafku. Aku hanya dapat mengaguminya dari balik mejaku. Seandainya dia adalah stafku, p...