Jakarta, tahun 2101
Aku sungguh-sungguh berpikir akan mati hari ini—tapi takdir berkata lain.
Saat aku membuka mata, dalam kabut morfin dan entah jenis anestesi apa yang disuntikkan oleh tim dokter ke dalam tubuhku, segalanya tampak buram, seperti permukaan kaca yang berdebu. Aku mengerjap beberapa kali dalam usahaku melawan efek bius yang masih tersisa. Aku tahu aku memandang ke arah lampu karena bola cahaya di atas wajahku perlahan-lahan mulai mewujud. Meski begitu, tarikan napasku-lah yang membuatku menyadari kalau aku masih bertahan di sini. Barangkali tak sempurna seperti yang lain, tapi hidup.
Telingaku mulai menangkap bunyi-bunyi familiar. Di sekeliling ranjang, ada banyak peralatan medis yang terhubung ke tubuhku melalui selang transparan.
Sudah dua kali mereka mengganti jantung buatan yang seharusnya menjadi seluruh pusat kehidupanku itu, tapi tubuhku terus menolak. Tidak peduli seberapa banyak aku meminum obat-obatan supresan dosis tinggi untuk mencegah terjadinya penolakan organ, tetap saja hasilnya sama. Saat itu, kupikir segalanya akan berakhir. Dokter spesialis bedah jantung buatan yang menangani kasusku sebetulnya tak menyarankan agar aku menjalani operasi lain. Terlalu beresiko, katanya.
Sejujurnya aku sudah siap melepaskan segalanya, siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada kehidupanku yang tak seberapa berharga, tapi orangtuaku tak mau menyerah.
Jadi, di sinilah aku.
Kali ini, aku mendapatkan jantung yang dibuat dengan teknologi paling baru. Jantung ini disesuaikan secara khusus untukku, dicetak agar bentuknya persis sama seperti jantung asli yang mereka keluarkan dari tubuhku dua tahun lalu, karena jantungku sudah berhenti berfungsi sepenuhnya. Mereka membawanya ke Pusat Organ Buatan untuk selanjutnya dilakukan proses pemindaian, desain organ, dan percetakan. Kudengar biaya transplantasi kali ini jauh lebih mahal dari yang sebelum-sebelumnya, karena mereka harus membuat semuanya dari awal, bukannya mengambil jantung buatan yang sudah tersedia. Bahkan orangtuaku, yang memiliki bisnis toko Game VR terbesar di seantero negeri, harus mengeluarkan kocek cukup dal...