Matahari belum juga terbit. Aku bergegas untuk memanaskan si Puki, motor jadulku. Hendaknya Aku akan pergi mengejar matahari terbit di Perbukitan Menoreh yang terletak tak jauh dari kediamanku. Sembari menunggu si Puki panas, isteriku menyiapkan gorengan dingin yang telah dimasaknya semalam. “Sayang jika tidak dimakan. Lumayan juga untuk mengganjal perut. Sebab, tukang nasi pecel pasti belum buka pagi-pagi buta begini.” Gorengan dingin tersebut ku makan dengan lahap, dan sebagiannya kumasukkan ke dalam kresek bening untuk camilanku di Menoreh nanti.
Tubuhku yang semakin memanas akibat metabolisme pasca memakan gorengan dingin berjalan beriringan dengan mesin si Puki. Aku tak sabaran. Segera ku gaspol dalam posisi transmisi netral. Pikirku, itu akan membantunya lebih panas lagi dan lagi.
“Suamiku...