Tino membuka pintu dengan tiba-tiba dan mengejutkan Raya yang sedang duduk termenung di meja kerjanya.
"Dia sudah datang," ucap Tino tanpa melepaskan gagang pintu ditangannya seolah-olah menunggu jawaban dari kakaknya.
"Kamu yakin?" Raya berdiri dan berjalan mendekat kearah jendela lalu mengintip sedikit keluar dari balik tirai.
Tino mengangguk saat Raya menatapnya.
"Mulailah acara pemakaman Bapak dan jangan beritahu ibu tentang kedatangannya, biar aku yang akan mengurusnya nanti."
Sekali lagi Tino mengangguk lalu menutup pintu.
Raya kembali mengintip dari balik tirai jendela, menatap sosok perempuan yang masih cantik diusia setengah abad lebih, duduk menyendiri dideret paling belakang. Tampak raut sedih tergambar jelas dari wajahnya dan mata yang terlihat telah lelah mengeluarkan airmatanya.
Dan tak terasa air mata Raya pun ikut menetes, teringat pembicaraan terakhir dengan mendiang ayahnya seminggu yang lalu.
***
Raya memandang ba...