Aku tidak pernah membayangkan hari itu akan datang. Maksudku, tentu saja aku sering berandai-andai. Aku ahli di dalam hal itu. namun, khayalan selalu aman karena tidak pernah menyentuh dunia nyata.
Hari itu berbeda, dan hari itu nyata.
Aku sama sekali tidak siap.
Kami berdua duduk berhadapan di café kecil di dekat kantor. Seperti biasa, kebiasaan ini sudah tumbuh bersama kami. Aku sudah terlalu hafal untuk memesankan black coffee untuknya, dan Mas Bhre juga tak akan heran ketika aku selalu memilih...