PENJAGA INGATAN
Ada yang hilang dari kepala.
Ada yang patah di tubuh.
Namun setiap senja
kami masih duduk di kursi bambu yang sama.
Sebab Tuhan tidak menitipkan kasih sayang
di dalam ingatan.
Ia menitipkannya di hati.
Dan hati...
tidak pernah belajar melupakan.
Dulu, setiap kali aku pulang dari sekolah, Ibu selalu memanggil namaku dari dapur. Beliau tidak pernah berteriak. Suaranya pelan, tetapi selalu berhasil menemukanku, bahkan ketika aku bersembunyi di balik pohon mangga. Kini pohon itu masih berdiri. Yang hilang hanya suaraku di dalam ingatannya. Hari ketika Ibu lupa namaku ternyata bukan hari paling menyedihkan dalam hidupku.Hari paling menyedihkan adalah ketika aku berhenti memperkenalkan diri....