Penjaga Istana

Oleh: Muhammad Reza Satria Dewangga

Aku adalah lelaki yang tinggal di dalam istana. Bukan panglima, bukan patih, lebih-lebih lagi seorang raja. Orang-orang memanggilku tetap dengan namaku, terlebih jika di hadapan raja, mereka memanggilku dengan pujian-pujian khas penjilat kekuasaan. Tak ada gelar untuk segenap pekerjaan yang kulakukan. Bukan permaisuri, bukan harem, terlebih kasim. Sebab kerajaan hanya punya kata selir bagi perempuan, sementara bagiku, bahasa memilih diam. 

Sekalipun aku berangkat dari dunia keprajuritan, gelar prajurit nyatanya tak pernah memberikanku kedudukan yang sempurna. Oleh karena itu, jangan bertanya berapa medan laga yang pernah kulalui, memegang pedang pun aku masih kagok. Jangan tanya berapa peluru yang menembus tubuhku, buktinya kulitku terlalu halus untuk menyimpan jejak perang. Bajuku lebih sering dicuci oleh harum ruangan berpendingin, dibandingkan basah oleh lumpur parit pertahanan dalam hutan. Tanganku sendiri lebih akrab dengan segel kerajaan yang bernafas, tak lain dan tak bukan, ya pemilik kerajaan itu sendiri. 

Namun anehnya, setiap kali raja di singgasana, aku selalu diminta untuk berada disampingnya. Mungkin karena raja masih belum menemukan “pasangan” yang tepat, tempatnya bercerita, berceloteh, dan mungkin meluapkan perasaannya setelah berakting ria dari pagi hingga ke petang. Aku sendiri juga masih berkelindan dengan kebingungan, orang yang sangat mulia, tempatku ngenger dan mengabdikan hidup itu, harus hidup tanpa pasangan. Tentunya bukan kerana dia tidak dilimpahi kemelaratan, apalagi ketakutan tidak bisa memberi makan. Nyatanya, jauh setelah perceraiannya yang penuh drama, raja satu ini hampir jarang sekali diisukan dekat dengan perempuan. Sedikit berbeda dengan pendahulunya. Ada yang gila wanita, ada yang takut dengan wanita, dan sejarah juga mencatat wanita dalam takhta. 

Tetapi beberapa orang juga menjulukiku sebagai “Intan Prabu”, entahlah apa maksudnya. Intan adalah permata dan permata mahal harganya. Artinya aku mahal dan berharga. Dan kenyataannya memang begitu. Aku dekat dengan raja, selalu disampingnya, bahkan raja akan mencariku ketika tahu batang hidungku tak nampak dalam pandangannya. Siapapun yang ingin “berurusan” dengan raja, harus lewat persetujuanku. Dan uniknya, ini jabatan yang cukup cepat, layaknya pengiriman kilat yang dipesan hari ini dan besok kita langsung menerimanya.

“Indriya, ya, kesini” raja memanggilku selepas makan siang dengan duta kerajaan sahabat.

“Iya, Yang Mulia. Kehendak apa yang perlu hamba kerjakan?” tanyaku.

“Tidak, kenalkan ini Tuan Chiang dari Negeri Padma Boga” Sang Prabu mengenalkanku dengan duta kerajaan sahabat.

“Tuan Indriya, hmm sedikit berbelit ya,” Tuan Chiang Kai menjeda ucapannya, matanya yang sepet menelisik lurus ke jemariku yang tak berkapalan. Ia tersenyum, jenis senyum formal diplomatik yang dibeli dari kursus-kursus etiket luar negeri. Sembari bersalaman denganku, Tuan Chiang turut mengusap beberapa ruas jarinya pada telapak tanganku yang berujung rasa geli.. 

“Tapi saya tahu, di tangan yang halus begini, titah paling keras dari Prabu Girindra justru kerap dilahirkan.”

Aku hanya menunduk. Di sampin...

Baca selengkapnya →