Penjual Doa

Oleh: Titin Widyawati

Darah mengucur dari lutut sampai mata kaki, menodai betis  busik dan juga perban pembungkus luka-lukanya. Ia menyeret langkah dengan laju pincang. Tongkat kayu dituntun sebagai penyeimbang. Rambut penuh daki dan uban menggembel, sebab waktu buta dengan jadwal keramasnya. Kain kumal bolong sana, bolong sini tetap mampu menutup kemaluan, meski bagian pantat berlubang cukup besar. Ada semburat pedih yang diluberkan kantung matanya, meski berbait-bait senyum mekar menyambut pagi-pagi di emper jalan. Dua langkahnya merapalkan permohonan di garis zebra, tatkala lampu apil ...

Baca selengkapnya →