Penyair dari Pasar Gaib Senen

Oleh: Shinta Larasati Hardjono

"Pukul tiga pagi di peron lima. Jangan membawa logam, dan pastikan arlojimu berputar terbalik."

 

Nabila membaca kembali secarik kertas lusuh beraroma kemenyan dan melati kering di genggamannya. Di bawah pendar kuning lampu stasiun yang remang dan tebalnya napas malam Jakarta yang dingin, Nabila berdiri mematung di atas ubin dingin peron lima. Angin malam berembus kencang, menampar wajahnya yang pucat.

 

Sebagai seorang penulis muda yang baru saja kehilangan adik kandungnya akibat penyakit langka sebulan lalu, Nabila rela mempertaruhkan segalanya—termasuk akal sehat dan nyawanya—demi mencari keberadaan Pasar Gaib Senen. T...

Baca selengkapnya →