PERJAMUAN SUNYI

Oleh: Kagura Lian

Kabut tipis menyelimuti ruang tamu yang pengap oleh aroma kayu tua dan harapan yang membusuk. Di ujung meja jati yang kokoh dan angkuh, sebuah monumen kesombongan yang diwariskan turun-temurun, Ibu duduk dengan punggung tegak, seolah tulang belakangnya terbuat dari besi yang tak kenal kompromi. Pagi ini, udara terasa lebih berat bagi Sekar. Setiap kali tagihan utang atau bayang-bayang masa depan yang suram mengetuk pintu kepalanya, dia mendengar...

Baca selengkapnya →