Kabut tipis menyelimuti ruang tamu yang pengap oleh aroma kayu tua dan harapan yang membusuk. Di ujung meja jati yang kokoh dan angkuh, sebuah monumen kesombongan yang diwariskan turun-temurun, Ibu duduk dengan punggung tegak, seolah tulang belakangnya terbuat dari besi yang tak kenal kompromi. Pagi ini, udara terasa lebih berat bagi Sekar. Setiap kali tagihan utang atau bayang-bayang masa depan yang suram mengetuk pintu kepalanya, dia mendengar...