Persami

Oleh: OvioviO

Deru mesin mobil pikap L300 atau yang akrab mereka sebut “kol bak” meraung membelah aspal jalan lintas selatan yang berkelok. Di atas bak terbuka itu, dua puluh anggota Pramuka SMA Tunas Bangsa duduk berdesakan di atas tumpukan tas carrier dan gulungan tenda. Angin laut yang asin mulai menyapu wajah mereka, membawa aroma kebebasan yang sudah lama dinanti.

“Jangan berdiri, woi! Nanti diciduk polisi!” teriak Andi, suaranya hampir kalah oleh suara angin. Ia tertawa lebar, tangannya berpegangan erat pada besi pembatas bak sembari sesekali menggoda siswi-siswi yang duduk di pojok.

Sabtu pagi itu terasa sempurna. Langit biru bersih tanpa awan, dan semangat mereka sedang tinggi-tingginya. Setelah tiga jam perjalanan yang melelahkan namun penuh tawa, garis pantai selatan yang legendaris itu mulai terlihat. Ombaknya yang besar bergulung-gulung seperti raksasa putih yang menyapa dari kejauhan.

Setibanya di lokasi perkemahan sebuah tanah lapang berpasir yang hanya berjarak seratus meter dari bibir pantai rutinitas kedisiplinan langsung dimulai. Tidak ada waktu untuk bersantai.

“Siap, grak!”

Suara lantang Kak Satria, pembina mereka, memecah kesunyian pantai. Apel pembukaan berlangsung khidmat di bawah terik matahari pukul sepuluh pagi. Meskipun peluh mulai membanjiri seragam cokelat mereka, kebanggaan terpancar dari wajah-wajah muda itu. Bagi mereka, ini bukan sekadar berkemah, ini adalah ujian kemandirian.

Begitu apel dibubarkan, suasana berubah menjadi sibuk yang teratur.

* Regu Elang (regu Andi) bertugas mendirikan tenda dome.

* Regu Mawar mulai menyiapkan area tungku untuk memasak.

* Sisanya sibuk mengambil air bersih dari sumur penduduk yang terletak agak jauh di balik bukit kecil.

“Ndi, pasak yang sebelah sini kurang dalam!” teriak Bayu, ketua regu mereka.

Andi mengusap keringat di dahi dengan pungg...

Baca selengkapnya →