Hari masih agak lembab ketika aku dan ketiga tengik ini tiba di Kalidowo di sekitar bibir desa. Beberapa orang bersepeda lewat dan menyisakan jejak ban pada jalan yang belum sempat kering. Kurang lebih 2 meter ke depen, satu dua wajah yang tampak kusam ada juga di sana, seperti minggu-minggu sebelumnya; memegang gagang pancing, menghisap-embuskan asap rokok, menunggu ikan-ikan lapar.
“Aku berani bertaruh. Bahkan sampai sore habis, paling banyak kau pasti cuma dapat empat ekor ikan.”
Aku tahu itu cuma gurauan. Sebuah hubungan, entah pertemanan atau yang lainnya, memang terasa hangat dan hidup dengan canda-tawa. Beberapa mungk...