PETI INTAN DI LADANG KEBAIKAN
Prakata & Sinopsis
Ketika cangkul seorang petani sederhana membentur peti penuh intan permata yang terkubur dangkal, sebuah pilihan batin mengubah takdir seluruh desa: dari jeratan kemiskinan menjadi peradaban yang makmur dan penuh kedamaian.
Bab I: Ayunan Cangkul di Tanah Gersang
Keringat di Antara Retakan Bumi yang Haus
─── 💎 ───
Matahari sore menggantung rendah dan membesar di cakrawala barat Desa Karang Anyar, menumpahkan semburat warna jingga keemasan yang bercampur merah tembaga di atas daratan yang merana. Sudah tujuh bulan lamanya hujan menolak turun dari langit. Tanah ladang yang dahulu subur kini mengering, memadat, dan pecah-pecah membentuk retakan-retakan panjang seperti jemari bumi yang mengadah meminta setetes air. Angin kering berhembus membawa debu tebal, memoles dedaunan pohon jati yang meranggas hingga berwarna abu-abu kusam.
Di tengah ladang yang seolah mati itu, seorang lelaki paruh baya bertubuh liat, kurus, dan bersahaja bernama Pak Rahmat mengayunkan cangkulnya dengan irama yang runtut dan berwibawa. Setiap kali mata cangkul baja yang sudah menipis itu menancap ke dalam tanah keras, bunyi tumpul thuk... thuk... bergema lemah. Keringat asin yang bening dan hangat mengalir melintasi pelipisnya yang legam terbakar surya, menelusuri garis-garis pipinya yang makin dalam, lalu menetes satu demi satu membasahi jengkal bumi yang ia rawat dengan penuh kesabaran tanpa batas.
Pak Rahmat bukanlah pemilik tanah yang luas. Ia tidak memiliki sertifikat berstempel emas atau batas-batas patok kayu berukir. Ia hanyalah seorang petani penggarap yang sehari-hari mengenakan sarung tenun lusuh berpola kotak-kotak yang pudar, baju kemeja kain blacu berbintik noda lumpur kering, dan topi caping anyaman bambu tua yang tepi-tepinya mulai terurai. Selama belasan tah...