PIALA IMPIAN EYA

Oleh: Raha Kurnia

Bim mengayun raketnya keras. Pukulan forehand­-nya yang ciamik membabat udara dan deras menerjang ke arah lawan mainnya.

Ughh… tubuh Eya terdorong ke belakang, setelah sebelumnya gagal mengembalikan bola. Gadis itu terhuyung, hilang keseimbangan.

“Eyaa…!!”

Dalam sekejab Bim melompati net dan dan memburu Eya yang terduduk dengan raket terpental agak jauh darinya.

“Nggak pa-pa, Ey?” tegur Bim kuatir. Dia berjongkok di samping gadis itu. Eya mengangkat kepalanya sambil menyibak rambutnya yang melewati bahu. Untuk sesaat, Bim mengira akan menatap raut kesakitan, tapi yang dilihat sebaliknya. Eya meringis lucu. Mengangguk lugas.

“Hmm... sori, Bim. Kurang konsentrasi.”

Dikerutkan keningnya begitu menatap raut Bim yang cemas.

“Punya masalah, Ey?”

Eya tergelak setengah mencibir.

“Bener kok. Aku nggak bohong!” Ditinjunya lengan cowok itu untuk meyakinkan. Bim menarik tangan gadis itu. Membantunya berdiri.

“Cukup sore, Bim. Aku harus pulang. Kalau terlalu larut, bisa-bisa ‘lagu manis’ berkumandang di rumah,” ujar gadis itu sambil meringis lucu. Ditepuk-tepuknya rok membersihkan sisa kotoran yang melekat di sana.

“Aku antar!”

Eya melirik Bim sekilas lewat ekor matanya. Lucu, bagaimana dulu ia bisa sangat membenci cowok ini, Memasukkannya dalam daftar hitam orang-orang yang wajib bin kudu dikibarkan...

Baca selengkapnya →