Pintu Impian

Oleh: Sabilla SariFani

Mentari sudah tersenyum di balik awan. Tapi dingin masih menggigit tulang-tulang tak berdaya ini. Kuseret langkahku menuju ke sekolah. Darahku rasanya membeku dan nadi ini menjadi kaku karena dingin yang masih saja mencengkramku hingga di sekolah.

Sesampainya di sana, hanya angin-angin nakal yang menyapa dan menemaniku. Ia sama sekali tidak kasihan pada tubuhku yang mulai lemah menahan ngilu karena ia mulai menjalar dan menggigit sendiku.

Aku mencoba membuang keadaan ini. Aku mengintip isi tasku. Selembar kertas memanggilku di dalam sana. Aku tersenyum. Lalu kutarik. Kupandangi setiap tinta yang tertoreh di sana. Kupejamkan mata. Kucoba merasakan tiap kata menyatu dengan napasku.

Kuarahkan mataku ke angkasa. Awan-awan lembut menari. Burung saling berkejar-kejaran. Cerahnya l...

Baca selengkapnya →