Sepuluh tahun lalu, saat masih duduk di bangku SMA, kami berada di masa ketika prank dan kejutan menjadi hal yang dianggap wajar. Rasanya hampir setiap momen ulang tahun harus dirayakan dengan keisengan yang kadang berlebihan. Waktu itu, kami belum benar-benar memahami bahwa sesuatu yang dianggap lucu bisa saja meninggalkan rasa sakit bagi orang lain.
Di masa muda kami, jika ada teman yang tersinggung atau sakit hati karena prank, maka sudah menjadi “tugas” kami untuk membujuk dan meminta maaf sampai suasana kembali membaik, paling lambat dua atau tiga hari kemudian.
Prank memang sedang menjadi tr...