Pretensi

Oleh: Ilestavan

Sebanyak apa pun ia memohon, Awanama tetaplah sosok yang tidak akan melepaskan mangsanya. Aroma ketakutan, kental darah merebak akibat goresan berulang kali senjata tajam di wajah, adalah duet terbaik menciptakan irama kematian. Rintihan tertahan akibat lakban hitam merekat di mulut, juga sorot mata memohon si mangsa kendati napas sudah tersendat adalah satuan yang bikin Awanama tambah bergairah.

Air mata, raut putus asa, Awanama menikmati seluruhnya. Oh dan, yang paling dia nikmati; kepuasan membara dalam dada. Nikmat, senang, seperti melayang.

Setelahnya, sudah bisa ditebak. Korban terkapar, tanpa embus napas. Harapan? Pupus ikut nyawa.

Berselang empat puluh delapan jam, mayat itu ditemukan dekat ilalang yang menghuni waduk Yongsu. Tidak ada yang tertinggal dari sang predator selain korban mengenaskan. Sidik jari, bekas keringat, tak ada jejak yang bisa...

Baca selengkapnya →