Matahari sore menyelinap lewat sela-sela gedung tua kantor kami, seperti pengintip yang tahu semua rahasia, tapi memilih diam karena sudah terlalu bosan.
“Wah, rajin amat kamu,”
ucapnya dengan senyum selebar niat tersembunyi.
Teman sekantorku, tetanggaku, pria berseragam rapi yang wajahnya selalu menang undian simpatik,
tapi matanya—tak pernah berbohong.
“Iya, ini bentar lagi selesai.”
Sahutku, sambil tetap menari dengan angka-angka yang tak ...