"Mau aku seduhkan teh, Yang?"
Begitulah pertanyaan kecil Rahma menghiasi, membuatnya semakin manis. Rahma memang tidak secantik perempuan lain, tapi keramahannya bikin aku yang langsung asal tonjok saja bila ada masalah mencair.
Aku jawab iya. Tapi tak lama dia panik, mengaku teh sudah habis. Rahma memaksa membeli ke warung, tak mau dia bersedih aku pun mengiyakan. Aku yang sejak tadi mengantuk, mencoba tidur ayam di meja kerjaku. Aku tak boleh tidur karena tugasku harus diselesaikan dalam 5 hari, tapi masih menumpuk.
Tiba-tiba saja Rahma sudah ada di sampingku, membawakan teh celup kesukaanku. Aku terkejut karena...