RASA ITU

Oleh: Atis Dee Jay


Kabri duduk terpaku di kursinya. Wajahnya datar nyaris beku. Bahkan isak lirih dari sudut kamar tak mengusik kebekuannya.

Suara isakan itu sedikit mengeras. Segumpal hawa ditarik keras ke lubang hidung, susah payah menahan cairan ingus dari dalam hidung. Gembing, pemilik hidung pesek itu, menyapukan tisu ke hidung dan matanya yang basah.

“Bayangkan lho, Bri,” ucapnya. “Ini anaknya masih balita. Lalu Ibu itu terkulai begitu saja di atas setang motornya dan tewas. Bayangkan lho seberapa traumanya si adik itu . . .“

Kabri menatap tembok di depannya, menembus tembok itu lalu melayang ke kejauhan entah kemana.

Sekilas ia melihat dengan ekor matanya Gembing menutup layar ponselnya lalu meletakkan benda itu di sebelahnya. Perempuan sebayanya itu lalu memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke tembok. Wajahnya kuyu dan kocar-kacir bak lapak di pasar rakyat yang baru saja dihajar banjir bandang.

€..

Baca selengkapnya →