Bagi Ghea Kalista, hari Selasa bukan sekadar urutan hari setelah Senin. Selasa adalah tentang kiamat kecil yang datang setiap minggu. Sejak semalam, tidurnya tidak nyenyak. Bayangan tentang angka-angka yang menari di plafon kamar—sinus, cosinus, dan segala kerumitan trigonometri—membuatnya mual. Ghea lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam membaca buku dibanding berhadapan dengan angka-angka itu .
Pagi itu, kelas XI-IPA 2 terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma penghapus papan tulis yang baru dan debu yang beterbangan di bawah sinar matahari pagi seolah menambah kecemasan. Saat Bu Ratna masuk dengan langkah tegap, sanggulnya yang rapi seolah membawa beban berat dari tumpukan kertas ulangan di tangannya.
"Selamat pagi semuanya," suara Bu Ratna datar, tapi tajam. "Ibu tidak akan berbasa-basi. Hasil ulangan kemarin menunjukkan siapa yang benar-benar belajar dan siapa yang hanya mengandalkan keberuntun...