Pada hari wisudanya, Alya pulang membawa sebuah map berisi ijazah, sebuket bunga yang mulai layu, dan satu pertanyaan yang sejak beberapa bulan terakhir terus berputar di kepalanya.
Setelah ini aku harus apa?
Teman-temannya sudah punya jawaban.
Ada yang akan bekerja di perusahaan multinasional. Ada yang diterima sebagai pegawai negeri. Ada yang melanjutkan kuliah ke luar negeri. Bahkan beberapa sudah mulai mengunggah foto meja kerja baru dengan tulisan first day at work.
Alya hanya punya laptop tua, koneksi internet, dan rekening tabungan yang jumlahnya semakin membuatnya cemas setiap kali dibuka.
Ia sebenarnya sudah mengirim puluhan lamaran pekerjaan.
Sebagian tidak mendapat jawaban.
Sebagian lain mengirim surel penolakan yang bahkan terdengar lebih sopan daripada cara Alya menolak dirinya sendiri.
Thank you for your interest.
We regret to inform you…
We have decided to proceed with other candidates.
Pada malam setelah wisuda, Alya duduk di depa...