RIN

Oleh: Rico Tsiau

RIN

 

Senja selalu tiba lebih awal di rumah ini—mungkin karena matahari terburu-buru tenggelam, atau karena rumah ini memang enggan menampung cahaya terlalu lama.

 Langit masih menggantung jingga kusam ketika aku berdiri di ambang pintu. Rumput di halaman telah menjalar seperti luka yang sengaja dibiarkan merekah. Mereka memeluk anak tangga, merayap ke pergelangan kakiku, seolah berbisik: kembalilah ke tanah.

 Aku tahu aku harus membersihkannya.

...

Baca selengkapnya →