Rona Rima Kaum Jengah

Oleh: kutipan.izs

Dinding kamar yang retak itu saksi bisu bagaimana waktu merangkak seperti siput yang kehabisan pelumas. Di atas kasur yang pernya sudah menonjol keluar seperti tulang rusuk yang kelaparan, seorang pria menatap langit-langit dengan mata yang merah. Namanya bukan masalah, sebut saja dia sang perenung yang terkungkung. Di luar, kota sedang sibuk mengunyah mimpi-mimpi orang kecil, melumatnya menjadi aspal dan gedung-gedung cakar langit yang angkuh. Dia merasa seperti sebutir debu yang terjebak di dalam mesin blender raksasa, berputar tanpa arah, hancur tanpa sisa, lelah tanpa jeda. Semua khotbah moral dari corong-corong penguasa terdengar seperti dongeng pengantar tidur bagi bayi yang sudah mati rasa. Mereka bicara tentang masa depan yang gemilang, namun yang tersaji di piring makannya hanyalah sisa-sisa janji yang sudah basi dan berulat.

Langkah kaki di gang sempit bawah jendelanya terdengar berisik, berirama seperti detak jantung kota yang sedang terserang asma. Orang-orang berjalan dengan kepala tertunduk, memikul beban yang tidak kasat mata namun sanggup mematahkan tulang belakang. Mereka adalah mesin yang bernapas, robot yang berkeringat, kumpulan angka di atas kertas laporan keuangan para cukong yang duduk manis di ruangan ber-AC. Sang perenung bangkit, menyeret kakinya yang berat menuju cermin buram yang tergantung di dekat pintu. Di sana dia melihat wajah yang asing, wajah yang penuh dengan coretan garis-depresi, sebuah mahakarya dari sistem yang korup. Mulutnya terkunci, namun isi kepalanya berisik seperti pasar tumpah di hari minggu pagi. Ada amarah yang membara, ada kekecewaan yang membeku, ada rasa bosan yang sudah mencapai stadium akhir.

Dunia ini penuh dengan sandiwara yang naskah-skenarionya ditulis oleh para pembohong profesional. Mereka yang di atas panggung tersenyum lebar menampilkan deretan gigi yang putih bersih, h...

Baca selengkapnya →