Rose

Oleh: Vivinanavina

Bagiku, rumah bukan lagi sebuah dermaga untuk melabuhkan jiwaku yang retak, melainkan medan perang yang dipenuhi ranjau yang amat menyakitkan. Setiap kali bom amarah mulai meledak dari ruang tengah, aku akan meringkuk di sudut ranjang, memeluk lutut seolah-olah tubuhku sendiri adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa.

Suara piring dan gelas yang beradu dengan lantai dan pekikan yang melengking tinggi bukan sekadar bunyi, itu bentuk diso...

Baca selengkapnya →