Ruang yang Tak Mendengar

Oleh: Marion D'rossi

Pagi itu, sebelum berangkat ke gedung parlemen, Harun menghitung uang yang tersisa di dompetnya sampai tiga kali karena ia sedang mencari keberanian untuk memutuskan apakah uang itu lebih baik digunakan membeli beras atau ongkos perjalanan menuju ibu kota kabupaten, tempat ia dijanjikan bertemu seseorang yang katanya bisa memperjuangkan nasib warga desanya. Uang itu hanya tiga puluh tujuh ribu rupiah. Di atas meja makan, istrinya sedang membagi n...

Baca selengkapnya →