Rumah Warisan Iblis

Oleh: jinny

Rumah Warisan Iblis

Pagi ini di ruang tamu, Arif setiawan duduk santai sambil menyeruput kopi hitam panas yang baru saja disajikan oleh istrinya.

“Aku berniat mengajak Dita ke Sumatera besok lusa, Pak!, sekalian mengunjungi Pakde Kasno” ucap pria berumur 30 tahun itu sembari meletakkan cangkir diatas meja.

Pak Ahmad sedikit terkejut mendengar ucapan putranya untuk mengunjungi kakak dari istrinya itu. Sebab, sudah lama tidak mendengar kabar darinya lagi sejak saat itu.

“Untuk apa kau kesana Rif? tanya Pak Ahmad.

“Tempat tinggal Pakde Kasno itu sangat jauh dan disana masih wingit, kalian lebih baik tidak usah kesana”, lanjut pria paruh baya itu, suaranya dalam dan mantap, namun ada getar halus yang mengisyaratkan kekhawatiran. Ia duduk tegak di kursi kayu tua itu, cerutunya mengepulkan asap perlahan.

“Disana suasananya masih asri Pak, aku yakin Dita menyukai tempat seperti itu. Kita hanya ingin berlibur sebentar sekalian mengunjungi Pakde Kasno”, ucap pria berumur 30 tahun itu berusaha agar sang ayah mengizinkan.

Pak Ahmad terdiam sejenak, sorot matanya menerawang jauh seperti sedang memikirkan sesuatu, ia menghela napas dalam sebelum akhirnya bersuara.

“Ya sudah, asalkan kalian hati hati di sana dan ingat, apapun yang dikatakan Pakde Kasno, patuhilah”, pungkasnya lalu menekan puntung cerutu ke dalam asbak diatas meja. ...

Baca selengkapnya →