Saat rembulan telah berbaring bersama keresahan, aku menatap penuh kesal pada sepasang daun pintu yang terlihat sedang saling bercumbu penuh kemesraan. Mereka seolah mengejek diriku yang menantimu kembali, meski tahu kata ‘menunggu’ hanyalah menu utama pada hidangan bernama bualan.
Meja makan pun perlahan-lahan kehilangan kehangatan. Seluruh lauk yang kusediakan telah habis dilalap oleh dinding-dinding rumah yang semakin hari semakin kelapa...