Sejak pertemuan pertama kita kala itu, aku selalu berharap bahwa kelak kau akan menjadi sebuah rumah yang menjadi satu-satunya alasan aku ingin pulang
Waktu itu adalah hari pertama aku magang dan semua tampak amat asing. Kau datang dengan sebuah pulpen di tangan dan tersenyum tepat saat jarak di antara kita tinggal sebotol air mineral yang dirobohkan. Dengan detail kau mulai menjelaskan perihal apa saja yang nanti menjadi tugasku dan aku mendengarkannya dengan kefokusan yang terbelah. Sesekali kau berhenti menerangkan—mungkin untuk sekadar memastikan bahwa aku benar-benar mendengarkan—dan tidak memerhatikan layar komputer. Jeda-jeda yang sejenak itu menjadi tempat mata kita bertemu. Kau tersenyum, aku tersenyum, dan mulai saat itu, aku tahu, mengapa hidup ini tetap layak jalani.
"Nanti kalau ada yang masih membingungkan, kamu tanyakan saj...