Sahabat Masa Kecilku
Lampu-lampu kafe berpendingin udara di sudut Jakarta Selatan memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, membiaskan bayangan hujan gerimis yang menempel di balik kaca jendela. Di salah satu sudut meja kayu, Devi memutar-mutar cangkir kapucino hangatnya yang hampir dingin. Pandangannya berulang kali tertuju pada pintu kaca kafe setiap kali denting bel berbunyi. Dadanya bergemuruh oleh campuran rasa rindu, gugup, dan sedikit ketakutan yang sulit ia definisikan.
Sudah lima bela...