SAHABAT YANG PULANG TERLAMBAT
Oleh : Prasetya
Kita pernah berjalan tanpa tahu arah,
menertawakan hujan yang jatuh di jalan.
Waktu mengajari kita arti berpisah,
meski janji tetap tinggal dalam ingatan.
Ada namamu yang tak pernah benar-benar hilang,
meski jarak menelan jejak langkah kita.
Sebab sahabat bukan tentang selalu datang,
tetapi tentang tetap tinggal di dalam jiwa.
Aku masih ingat bangku itu. Bangku kayu di bawah pohon ketapang, di belakang gedung sekolah. Cat hijaunya sudah mengelupas dan salah satu kakinya miring. Di permukaannya ada ratusan coretan: nama, inisial, gambar hati, bahkan sumpah-sumpah cinta anak sekolah yang mungkin sudah dilupakan pemiliknya.
Di sanalah aku pertama kali mengenal Rahmani.Waktu itu kami kelas dua SMP. Rahmani duduk sendirian ...