Satu Pagi Di Kopitaloka

Oleh: Indra Afriza Arsad

Keping 1: Saat Masa Lalu dan Masa Kini Berkelindan

8 Tahun lalu, di sebuah Perusahaan...

Langit sore mengalir lembut di balik jendela kaca kantor, membungkus ruang operasional dengan warna oranye keemasan. Ardan berdiri kaku di depan meja Titi, memegang amplop putih yang sedikit kusut di ujung-ujungnya — seperti hatinya sendiri.

Titi, yang biasanya tegas dan sigap membaca situasi, kali ini hanya menatap Ardan dalam diam. Mata mereka bertemu sejenak — cukup untuk menyadari, kata-kata yang nanti akan diucapkan bukan sekadar urusan pekerjaan.

"Ini surat pengunduran diri saya," suara Ardan terdengar lebih berat dari biasanya.

"Saya mau mulai usaha sendiri... buka kedai kopi kecil." Alasan yang terdengar rasional. Masuk akal. Aman.

Titi menerima amplop itu tanpa banyak bicara. Hanya ada anggukan kecil — formal, dingin di luar, padahal di dalam... berantakan. Mereka berdua tahu: Bukan tentang kopi. Bukan tentang ambisi. Tapi tentang luka yang tak bisa lagi mereka perbaiki.

Senyum Titi terukir tipis — profesional, palsu, menyakitkan. "Semoga sukses, Ardan."

Saat Ardan membalikkan badan dan melangkah pergi, Titi masih menatap punggungnya. Ada sesuatu yang ingin ia tahan, sesuatu yang ingin ia tarik kembali. Tapi seperti matahari sore yang perlahan menghilang, ia tahu... beberapa hal memang diciptakan untuk berlalu.

 

Sebuah kedai di Citeureup, Masa Kini...

Aroma kopi panggang menyambut hangat. Di sebuah sudut kota yang dulu asing, kini berdiri Kopitaloka — kedai sederhana dengan lampu-lampu kuning redup dan kayu tua berbau nostalgia. Di balik bar, seorang pria dengan rambut sedikit berantakan dan senyum tenang sedang meracik espresso.

Nama panggilannya kini Sena. Tapi di dalam hatinya, ia masih Ardan yang pernah meninggalkan sesuatu — atau mungkin, seseorang.

 

Maka Kisah Ini Pun Dimulai Pada Suatu Senja...

Kopitaloka sore itu bernafas dalam ketenangan. Aroma robusta dan arabika bercampur dengan tawa kecil yang sesekali pecah dari pojokan ruangan. Di salah satu meja dekat jendela, Egi — barista muda yang selalu berceloteh — sedang bercanda dengan Raya, si mahasiswi magang yang sejak du...

Baca selengkapnya →