Satu Satunya Sandaran

Oleh: Ahmad Wahyudi

Hujan turun seperti tak punya rencana berhenti.

Langit menggantung rendah, kelabu, seolah ikut menahan napas bersama seorang lelaki yang berdiri sendirian di bawah atap halte yang bocor.

Ditya memeluk ransel lusuhnya erat-erat. Air menetes dari ujung atap, jatuh tepat di depan sepatunya yang telah lama aus. Di dalam ransel itu tersimpan pakaian seadanya, beberapa berkas, dan sisa-sisa hidup yang belum sempat ia rapikan. Ponselnya mati sejak sore—bukan karena baterai, tet...

Baca selengkapnya →