Saya, Ayah dan Waktu

Oleh: Best Siallagan

(Bagian 1)

 

Saya hampir pergi pagi itu.

 

Bukan hampir karena ragu.

Tiket bus sudah saya beli sejak tiga hari lalu. Tas sudah saya isi setengah. Baju, beberapa buku, dan satu foto lama yang entah kenapa selalu ikut ke mana pun saya pergi.

 

Semuanya sudah siap.

 

Kecuali saya.

 

Saya duduk di tepi tempat tidur, mengikat tali sepatu. Sudah rapi, tapi saya ulang lagi. Lepas. Ikat lagi. Tangan saya butuh pekerjaan. Kepala saya terlalu ramai.

 

Di luar kamar, terdengar suara sendok menyentuh piring. Pelan. Teratur. Seperti rutinitas yang tidak pernah protes.

 

Ayah sudah bangun.

 

Seperti biasa.

 

Selalu lebih dulu, meskipun sekarang ia sering lupa siapa saya.

 

"Ayah bikin teh," katanya dengan nada yang hampir bangga.

 

Saya...

Baca selengkapnya →