Malam itu, meja makan yang seharusnya menjadi tempat berbagi cerita justru berubah menjadi panggung penghakiman yang sunyi. Di depanku, sepiring nasi yang masih mengepul seolah kehilangan aromanya, tergantikan oleh bau ketegangan yang menyesakkan dada. Ayah meletakkan sendoknya dengan denting keras yang memekakkan telinga, sementara Ibu duduk dengan bibir tertekuk, menatapku seolah aku adalah tumpukan utang yang tidak kunjung lunas.
Awal konflik ini sebenarnya sederhana, namun luka yang dipendam bertahun-tahun membua...