Sebatas Asa yang Maya
Oleh: Frailyavana
Setahun berlalu sejak pandemi Covid-19 melanda penjuru dunia, mengubah kebiasaan manusia sebagai makhluk sosial dalam bersosialisasi. Sekolah sudah tidak diadakan secara daring, tetapi beberapa orang yang melabeli diri sebagai "introver" lebih nyaman di jejaring. Berkomunikasi, bermain aplikasi, atau sekadar kerasan dengan telepon cerdas karena menganggapnya lebih menarik daripada hal lain. Namun, karena ada banyak kesamaan dalam menikmati hal-hal dunia maya, orang-orang tersebut saling berkumpul dan menunjukkan jati diri asli; ekstrover.
Seorang introver tidak mungkin bisa dengan cepat terbuka terhadap orang lain, batin siswa kelas sepuluh yang hanya melihat siswa-siswa kelasnya bermain permainan daring di gadget bersama, tanpa dirinya.
Siswa itu tidak bermain game online, bahkan tidak ada hal yang membuatnya bisa berbaur dengan siswa-siswi di kelasnya. Selain karena tak ingin, dia memiliki alasan lain.
Oh, ada pesan. Siswa itu membuka pesan di jendela notifikasi gawainya. Tertera nama pengirimnya di situ: "Else Stevie, Seremony".
Lenguhan kecil terdengar keluar dari mulut siswa tersebut. "Seperti biasa, ya, dia ini."
Dapat terlihat teks pesan yang cukup panjang sampai ujung kalimatnya terpangkas oleh "baca selengkapnya" dari si pengirim.
Else Stevie,...