Sebuah Nama, Abram

Oleh: Ovianty

Aduh, gimana ini. Kakiku terasa sangat lemas. Menyeret kaki bergantian, seperti ada beban yang mengelayuti. Café Bohram sudah tepat di depan mata. Hari Minggu begini, café lumayan sepi. 

Aku meratapi kebodohanku mengikuti kemauan Winda untuk bertemu menyerahkan kartu undangan pernikahan. Mending kalau hanya bertemu dengan Winda, tapi ini juga dengan Abram.

Catat Abram!

“Win, kamu dimana?” Aku menelepon untuk memastikan keberadaan Winda yang k...

Baca selengkapnya →