Delapan bulan tinggal bareng Rita, aku hafal bunyi motornya sebelum dia masuk gang. Aku tahu dia bakal bersin kalau kebanyakan merica, nangis kalau menelepon ibunya, dan bilang nggak lapar tepat sebelum menghabiskan separuh makananku.
Tapi aku nggak tahu kenapa dia menaruh tas penuh di dekat pintu.
Tas hitam itu hadiah dari kantornya yang dulu. Biasanya dia lempar ke sofa atau biarkan di lantai sampai talinya menyangkut di kakiku. Dua minggu belakangan, tempatnya selalu sama, di sebelah rak sepatu. Ritsletingnya tertutup, kantong sampingnya diisi botol minum, dan pegangannya menghadap ke atas.
Kayak tinggal disambar lalu dengan mudah dibawa pergi.
“Mau ke mana?” tanyaku waktu pertama melihatnya.
“Nggak ke mana-mana.”
“Kok tasnya udah siap?”
“Biar rapi aja.”
Kontrakan kami di lantai dua tempat laundry, di sebuah gang di Bandung. Tangga naiknya dari samping bangunan, cukup sempit sampai kami harus bergantian kalau berpapasan sambil membawa belanjaan. Di atas cuma ada satu kamar, dapur kecil, dan ruang tengah dengan sofa yang pegasnya sudah menusuk pantat. Kalau mesin pengering di bawah dinyalakan, gelas di dekat kulkas ikut berdenting.
Nggak banyak tempat buat menaruh barang. Jadi, waktu menyapu hari Minggu, kupindahkan tas itu ke samping TV supaya bagian dekat pintu bisa kubersihkan. Rita keluar dari kamar mandi ketika aku sedang mengumpulkan debu di bawah rak sepatu. Dia melihat tempat kosong di sebelah pintu, lalu berhenti.
“Tasnya mana?”
“Itu. Mau disapu dulu.”
Dia langsung mengambilnya. Aku mengangkat ujung sapu ketika dia hendak mengembalikan tas itu ke tempat semula.
“Sebentar, Ita. Belum selesai ini nyapunya.”
“Iya. Aku pegangin ini.”
Rita berdiri di belakangku dengan rambut masih terbungkus handuk, menunggu sampai lantainya bersih. Tas itu dia pegang dengan kedua tangan. Sesudah aku menyingkirkan pengki, baru dia meletakkannya lagi di sebelah rak sepatu, persis seperti sebelumnya.
“Emang isinya apa? emas?” tanyaku sambil tertawa kecil.
Rita ikut tersenyum. “Barang penting.”
Aku susah tidur sejak kecil karena takut napasku berhenti waktu aku sudah ...