Selamat Hidup Kembali, Ra

Oleh: Shanty Dewi Shanty

Pukul 02.17 dini hari. Botol sabun cuci piring berwarna hijau terang, yang biasanya bersembunyi di sudut wastafel kos, kini tergeletak mencolok, setengah kosong. Aku tidak ingat persis kapan mulai menuangkannya ke dalam gelas. Yang terpatri jelas dalam ingatanku hanyalah pesan singkat terakhir dari Arga, sebuah kalimat dingin yang merobek segala harapanku:

 

“Maaf, Ra. Aku nggak bisa nikah sama kamu. Minggu depan batalin aja semua.”

 

Tujuh hari lagi. Hanya tujuh hari tersisa menuju hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan abadi. Undangan pernikahan, yang telah dirancang dengan detail dan penuh cinta, sudah tersebar ke empat ratus tamu undangan. Gaun pengantin impian, hasil pemilihan berbulan-bulan, sudah melewati sesi fitting ketiga, sempurna membalut tubuh. Kue test food telah ludes kami berdua habiskan, ditemani tawa renyah saat berebut topping stroberi. Dan kini, semuanya batal. Hancur. Melalui sebuah pesan WhatsApp, bukan panggilan telepon yang seharusnya. Bukan dengan tatapan mata yang bisa menjelaskan segalanya, yang mungkin bisa sedikit meredakan sakit.

 

Sungguh ironis. Namaku Rara, sebuah nama yang melambangkan keanggunan, namun dia selalu memanggilku “Ra” saja. Katanya, agar singkat, agar secepat napas. Sekarang, napas itu terasa berhenti, tercekik oleh “Ra” yang sama.

 

Rasanya? Persis seperti ditelan air sabun sungguhan. Tenggorokan terasa panas membakar, perut bergejolak mual tak tertahankan, dan kepala berdenyut-denyut penuh rasa malu yang teramat sangat. Aku sebenarnya tidak ingin mati. Aku hanya ingin tidur panjang, sangat panjang. Berharap ketika terbangun nanti, semua sudah berubah. Keadaan ini, rasa sakit ini, semua telah lenyap.

 

Namun, yang terbangun malah selang NGT yang mencuat dari hidungku, sebuah pemandangan yang asing dan menyakitkan. Lampu rumah sakit memancarkan cahaya putih yang begitu menyilaukan, ditambah aroma karbol yang menusuk hidung, menciptakan suasana steril yang mencekam. Ibuku duduk di kursi plastik yang keras, kerudungnya miring tak beraturan, mata sembab namun tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Bapak di pojok ruangan, khusyuk memegang tasbih, matanya kosong menatap plafon yang dihiasi noda rembesan air, seolah mencari jawaban di sana.

 

“Masih hidup, Nduk,” ...

Baca selengkapnya →