Malam itu jarum jam sudah menunjuk ke angka sembilan. Septa melangkah tergesa-gesa meninggalkan rumah temannya, membelah keheningan malam yang pekat. Sisa hujan sore tadi masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, lengkap dengan jalanan tanah yang kini berubah menjadi kubangan lumpur. Sepatunya berkali-kali terbenam, menyisakan cipratan cokelat di celananya. Namun, Septa sudah terbiasa dengan rute ini. Ini adalah jalan pulang yang selalu dia lalui setiap hari.
Ketika langkahnya sampai di ujung jembatan tua dekat rumahnya, sebuah jembata...