Selembar Puisi Di Musim Hujan

Oleh: Indra Afriza Arsad

Puisi yang Basah

 Langit sore menggantung muram di atas kota yang tak pernah tidur, tapi jarang benar-benar peduli. Di ruas Jalan Sakanpari, Bramanta berdiri di depan toko roti yang lampunya temaram, bukan semata karena lapar, tapi karena aroma manis yang membangkitkan kenangan—tentang masa saat puisinya cukup dibayar untuk sepotong kue dan secangkir kopi.

Bogor menua, dan begitu juga ia. Dulu ia dijuluki “Bramanta si Penulis Hujan”—setiap...

Baca selengkapnya →