Senja di Tepi Danau

Oleh: JNR1101

Danau itu ada di pinggiran desa, dikelilingi bukit-bukit rendah yang seolah berbaris rapi menjadi pagar alami. Airnya tenang bak cermin raksasa, kecuali saat angin berhembus pelan, lalu menciptakan ribuan riak kecil yang berkejaran satu sama lain seolah sedang bermain petak umpet. Di sisi barat danau, persis di bawah sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjalar sampai ke bibir air, berdiri sebuah bangku kayu. Kayu itu sudah berubah warna menjadi cokelat kelabu tua, permukaannya halus licin karena sudah puluhan tahun diduduki orang-orang yang datang untuk melihat matahari terbenam. Bagi sebagian orang, bangku itu hanyalah bangku biasa. Tapi bagi Rina dan Andi, bangku itu adalah saksi bisu seluruh cerita hidup mereka. Tempat di mana persahabatan mereka bermula, tempat di mana semua impian diucapkan, dan kelak, tempat di mana hati harus belajar menerima kenyataan yang paling pedih sekaligus paling indah.

Semua bermula saat Rina berusia tujuh tahun, dan Andi baru genap berusia delapan tahun. Sore itu langit berwarna jingga menyala, persis seperti warna permen kesukaan Rina yang baru saja jatuh dan hanyut terbawa arus selokan kecil di dekat rumahnya. Rina duduk di atas rumput basah di tepi danau, menangis sejadi-jadinya, sampai bahunya terguncang hebat dan air matanya membanjiri pipinya yang kemerahan. Ia merasa dunia sudah berakhir. Permen itu adalah hadiah dari ibunya karena ia berani pergi ke sekolah sendirian untuk pertama kalinya.

Tiba-tiba ada bayangan panjang yang menutupi tubuh mungilnya. Rina mendongak, dan di hadapannya berdiri seorang anak laki-laki dengan celana pendek yang sedikit kotor terkena lumpur, kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai ke siku, dan sepasang mata hitam yang jernih, tenang, dan terlihat jauh lebih dewasa daripada usianya. Di tangannya, ada dua butir permen berwarna jingga persis seperti yang hilang tadi.

"Jangan menangis lagi," kata...

Baca selengkapnya →