Ruang utama sudah rapi. Meja dan kursi tertata apik. Tiga lukisan vintage dan satu banner terpajang molek di dinding. Seulas senyum puas sudah nyaris menyeruak di bibir Itas, ketika mendadak ia merasa ada sesuatu yang aneh. Hidungnya mengendus-endus.
“Kok ada bau bunga dan kemenyan sih?” pikirnya. “Dari mana ini?”
Ia berkeliling ke seluruh ruangan. Tak sulit menemukan sumbernya. Di salah satu sisi dinding di bawah pigura besar sebuah lukisan alam, ada satu nampan besar penuh dengan bunga aneka warna. Di sebelahnya, di nampan yang lebih kecil tergolek seonggok dupa, beberapa keping uang logam, dan tiga batang rokok kretek.
Sesesorang melangkah turun dari lantai dua. Itas menengok. Adiknya, Icus, bergerak turun bak bidadari dari khayangan sambil menyisir rambut pan...