Ruangan itu cukup luas. Berukuran 10x10 m.
Dijejali rak-rak dan kardus-kardus yang kekenyangan oleh buku berbagai rasa. Ensiklopedia, motivasi, pengetahuan umum, sampai buku catatan anak-anak sekolah terdahulu. Meski sesesak itu, kardus-kardus baru terus berdatangan.
Catalina, nona penjaga tempat itu memandang tanpa minat gotong-royong orang-orang pembawa kardus. Toh, hal itu terlalu biasa. Bahwa motif pembawaan kardus tersebut tidak jauh berbeda dengan membuang sampah. Bahkan maksud-maksud klasik seperti mencerdaskan atau pendidikan pun telah ikut terbuang.
Setelah orang-orang berduyun pergi, Catalina menggerakkan kakinya mendekati kardus-kardus baru. Bersama lap di tangannya, ia membersihkan tiap-tiap kardus dan melihat sekilas isi di dalamnya. Kemudian, Catalina mendapati kardus itu.
Kardus itu sangat besar. Dengan buku teratas bertahktakan tulisan Album Kenangan SMP HARAPAN ANGKATAN KE-15.
Catalina mengangkat buku tersebut. SMP-nya dulu, angkatannya, dan ini sudah 15 tahun berlalu. Kebetulan, kah? Catalina tidak tahu.
Catalina menggegam buku itu ke meja dimana ia menobatkan dirinya sendiri sebagai pengawas. Bukan meja kebesaran dalam dunia lama. Hanya beberapa tumpuk buku di atas kain lusuh yang berlubang.
Catalina memperlakukan buku tersebut bagai barang antik limited edition. Sebab bagi Catalina, 15 tahun lalu ke atas itu b...