SETITIK NILA MASA LALU

Oleh: Raha Kurnia

ADAM          

Secangkir capucino baru saja habis kuhirup. Kuletakkan cangkir berbentuk klasik itu ke atas meja. Pelan, kusibak sedikit lengan kemejaku. Hmm… ke mana ia? pikirku, sedikit gelisah. Di telepon tadi dia memintaku menemuinya di café ini, tempat di mana sering kami habiskan berdua mengusir waktu.

Aku tersenyum. Mengingat pertemuan perdana kami di tempat ini. Dua orang yang sama-sama kesepian dan tak percaya siapa pun.

Dulu… di pintu itu, saat aku nyaris keluar lagi karena tak ada lagi meja yang kosong, tiba-tiba pandanganku tertumbuk padanya yang sendirian menyantap sepotong croissant. Melihat rautnya yang dingin itu, setitik sinar muncul tiba-tiba di kepalaku. Menggerakkan kakiku untuk menghampiri mejanya. Setidaknya ada kursi kosong di sana. Aku kepepet waktu oleh meeting penting yang harus segera kuhadiri belasan menit lagi. Aku tak ingin sampai tak bisa kosentrasi dan menggagalkan sebuah transaksi hanya karena perutku menjerit minta diisi!

Kami cuma bertukar kata sekilas, karena aku terpaksa menegurnya demi kesopanan dan meminta ijinnya ikut membajak meja itu, yang— kutahu dari mimiknya— dengan enggan terpaksa disetujuinya. Setelah itu kami lebih banyak tenggelam dalam pikiran sendiri, seperti tak sadar keberadaan yang lain; terburu-buru menghabiskan makan siang masing-masing supaya bisa secepatnya meninggalkan meja itu.

Kukira aku tak akan pernah melihatnya lagi.

Tapi aku keliru.

Kami bertemu lagi dalam suasana tak terduga. Ternyata dia salah satu orang yang harus kutemui dalam meeting hari itu. Hampir tak percaya, si cantik cerdas yang penuh percaya diri mengemukakan ide-ide itu adalah orang yang sama, dengan yang kulihat di café. Wanita pemurung yang seolah-olah terpisah dari dunia sekitarnya!

Pertemuan-pertemuan berikutnya datang menjerat tanpa diundang, hingga aku mulai memikirkan keberadaannya. Mulai penasaran dengan semua sikapnya. Mulai mencari-cari alasan untuk sekadar melihat senyumnya, yang mahal itu. Hufh, ...

Baca selengkapnya →