SIAPA GERANGAN DIA?
Malam merayap lambat di sudut kota Jogja, seiring melambatnya laju kereta yang saya tumpangi. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah dan aspal dingin. Tak sampai 5 menit saya telah berada di sebuah kafe di Kota Baru, yang terlalu jauh dari stasiun kereta. Jam dinding di atas meja barista menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
Saya duduk di sudut paling belakang, sengaja memilih meja yang agak temaram agar tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang. Di hadapan saya, secangkir Americano panas yang dipesan dua puluh menit lalu kini sudah kehilangan asapnya, menyisakan cairan hitam pekat yang mulai mendingin tanpa sempat saya sesap sedikit pun.
Jantung saya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan sejak tadi. Ada rasa cemas yang aneh, sejenis kegelisahan yang biasa dirasakan seseorang yang sedang menunggu sebuah keputusan besar ...