Gerimis tipis membasuh pelataran kampus sore itu. Aroma tanah basah yang khas petrichor menguar ke udara, membawa serta sepotong memori usang yang selalu disimpan rapat-rapat oleh Joseph di sudut paling sunyi di hatinya. Baginya, aroma ini adalah mesin waktu. Setiap kali tetes air langit menyentuh bumi, ingatan Joseph selalu terlempar ke belasan tahun lalu, ke sebuah sore di lapangan sekolah dasar saat dunia masih terasa begitu sederhana.
Kala itu, kelas 4 SD. Masa di mana masalah terbesar mereka hanyalah pensil warna yang hilang atau kalah bermain kelereng. Di sana, ada Adrian. S...