Aroma kertas tua yang khas dan hembusan sejuk AC menyelimuti sudut perpustakaan siang itu. Di balik meja kayu yang penuh tumpukan buku referensi, Ara masih terpaku. Jemarinya menari lincah di atas papan tik laptop, menciptakan bunyi ketukan yang berirama pelan. Sesekali, ia membetulkan letak kacamata yang merosot, matanya menyapu barisan catatan dengan dahi berkerut dalam. Ia begitu tenggelam dalam upaya merampungkan bab terakhir skripsinya, seol...