SINYAL MASA DEPAN vol.2

Oleh: Aldibilalagi

BAB 13 — KETIKA CINTA MEMBENTUR TAKDIR

 

Tiara tidak pernah menyangka bahwa cinta bisa menjadi sesuatu yang menyakitkan.

 

Ia selalu berpikir bahwa perasaan seperti itu milik manusia biasa, bukan milik penjelajah waktu ilegal yang menghabiskan hidupnya mengejar satu obsesi balas dendam.

 

Tapi malam itu, ketika Bayu tertidur di sofa—setelah berjam-jam memeluk kepalanya karena frustasi tak bisa melihat masa depan lebih jauh—Tiara merasa sesuatu di dadanya runtuh perlahan.

 

Perasaan itu sederhana…

dan rumit…

dan menghancurkan.

Ia mencintai Bayu.

Tidak ada gunanya lagi memungkiri.

 

Hari-hari yang mereka habiskan bersama—bangun pagi bersama, Bayu yang selalu merebutkan sisanya roti, Bayu yang marah karena Tiara lupa makan, tapi tersenyum ketika menjatuhkan cangkir. Bayu yang tersenyum bodoh setiap melihat Tiara tersenyum—semua itu telah mengendap, menumpuk, hingga akhirnya menjadi sesuatu yang tidak bisa dibuang begitu saja.

 

Tapi…

Cinta itu menuntut harga yang tidak mampu ia bayar.

Karena jika ia tetap bersama Bayu…

Jika ia membiarkan perasaan itu tumbuh…

 

Ia tahu apa yang akan terjadi.

Ia tahu siapa yang akan lahir.

Dan ia tahu apa yang anak itu akan lakukan.

 

Tiara duduk di lantai, bersandar pada dinding, menatap Bayu yang tertidur. Lampu ruang tamu redup, membuat wajah Bayu terlihat lembut—rapuh, bahkan.

 

Seseorang yang dulu ia anggap penipu licik, sampah masyarakat, manusia tanpa masa depan…

 

Kini adalah satu-satunya orang yang membuatnya bertahan.

 

“Bay”

Suara Tiara hampir tidak terdengar.

“Jika aku tidak mencarimu…mungkin hidupmu akan lebih lama.”

 

Tiara menunduk, memegang kepalanya.

 

Jika ia pergi sekarang… Bayu akan kehilangan semua kemampuannya.

Ia tidak akan bisa melihat masa depan lagi.

Ia akan kembali menjadi penipu kecil yang hidup dari kebohongan.

 

Itu akan menyelamatkan keadaan.

Mencegah masa depan itu.

Mencegah kelahiran Alex.

Mencegah tragedi keluarga Tiara.

 

Tapi itu juga berarti…

 

Bayu akan hancur.

 

Ia akan kehilangan bukan hanya kemampuanya, tapi juga Tiara—orang yang ia jaga, ia cintai, ia lihat sebagai masa depannya.

 

Bayu tidak tahu apa-apa. Tidak tahu tentang masa depan. Tidak tahu bahwa mencintai Tiara berarti menapaki jalan yang kelak berujung pada kehilangan. Dan Tiara tidak sanggup menyakiti Bayu seperti itu.

 

Pagi datang pelan.

 

Bayu terbangun karena aroma kopi.

Tiara berdiri di dapur, menyeduhnya tanpa banyak bicara.

 

Bayu mengucek mata, lalu tersenyum samar.

“Pagi, sayang.”

 

Tiara mematung sejenak.

 

Kata itu—sayang—yang dulu hanya lelucon Bayu, kini terdengar sangat nyata. Terlalu nyata.

 

“Pagi.”

 

Bayu mendekat, mencuri ciuman cepat di pipinya.

Gerakan otomatis. Seolah tubuhnya tahu bahwa Tiara adalah rumah.

 

Tiara tersenyum kecil, tetapi matanya kosong.

 

Bayu menangkap itu.

“Kamu mikirin penglihatan itu lagi?”

 

Tiara tidak menjawab.

 

Bayu memeluk dari belakang, dagu menempel di pundaknya.

Hangat. Menenangkan. Nyaman.

 

Dan itu membuat Tiara semakin sakit.

 

“Ta…” Bayu pelan.

“Whatever happens, kita hadapin bareng. Oke?”

 

Tiara menutup mata.

 

Bayu tidak tahu.

Bayu tidak pernah tahu.

Dan mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sedang Tiara sembunyikan.

 

Bukan hanya identitasnya.

Bukan hanya pelarian dari Time Authority.

Bukan hanya masa depan yang ia ubah.

 

Tapi kenyataan bahwa…

 

Ia mungkin sedang jatuh cinta pada laki-laki yang suatu hari akan menjadi ayah dari pembunuh keluarganya.

 

Hari itu, Tiara berjalan sendirian ke balkon apartemen.

 

Ia memandangi kota. Cahaya pagi membuat gedung-gedung terlihat seperti garis-garis takdir yang tak bisa dihapus.

 

Bayu muncul di belakangnya, menyelimuti tubuh Tiara dengan jaketnya.

 

“Kamu kedinginan?”

 

Tiara menggeleng.

 

Bayu berdiri di sampingnya.

Tidak menyentuh. Tidak memaksa.

 

Hanya ada perlindungan.

 

Dan itu cukup membuat Tiara merasa dihancurkan dari dalam.

 

“Bay…” Suaranya goyah.

“…kalau suatu hari nanti aku pergi, apa yang akan kamu lakukan?”

 

Bayu ...

Baca selengkapnya →