Sisa Cahaya di Peron Senja

Oleh: Arsel or Aun

Peron LRT sore itu tidak terlalu ramai. Aku berdiri sedikit menjauh dari kerumunan, kedua tangan masuk ke saku jaket cokelat krem yang sudah beberapa tahun menemaniku berangkat dan pulang kerja. Resletingnya mulai seret, ujung lengannya sedikit berbulu, tetapi aku belum pernah benar-benar berniat menggantinya. Tak lama kemudian, suara pintu otomatis terdengar. Orang-orang bergerak lebih cepat. Sebagian masuk terburu-buru demi mendapatkan tempat duduk, sebagian lagi memilih berdiri di dekat pintu. Aku ikut melangkah bersama arus. Beruntung, masih ada satu kursi kosong di sisi kiri. Aku mengembuskan napas lega begitu tubuhku menyentuh sandaran. Rasanya kakiku sudah cukup diajak berdamai hari ini.

____________________________

Menjadi pekerja ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang pernah kubayangkan semasa kuliah. Ada hari-hari ketika pulang, mandi, lalu tidur menjadi satu-satunya hal yang ingin kulakukan. Sore itu, keberuntungan masih berpihak. Satu kursi kosong tersisa di sisi kanan gerbong. Aku duduk, meletakka...

Baca selengkapnya →